|
| BACALAH |
| Tuesday, April 11, 2006 |
Bacalah dengan sebut Tuhanmu yang telah menciptakan semua kejadian di dunia....sebuah syair dari grup nasyid Robbani. sebuah syair yang indah juga penuh makna yang mendalam sebagaimana tertulis dalam Al Qur'an. Dan ayat tersebutlah yang pertama kali di turunkan pada ummat manusia. Ayat untuk membaca. Tiada cuma tulisan tetapi membaca apa yang ada di sekitar kita. Membaca alam yang merupakan ayat ayat ALLAh juga.
Membaca diri sendiri Bila kita mau meluangkan waktu walau sesaat untuk membaca diri kita, baik yang bersifat raga jasmani atau mental spiritual..akan kita temukan begitu banyak keajaiban dan keindahan yang membuktikan akan kekuasaan ALLAH. Tubuh kita yang terdiri dari darah daging yang tersusun dari milyaran sel, yang begitu harmonis dalam melakukan aktivitasnya. Otak kita yang sering kita agungkan dengan merefleksikan akal kita, yaitu kepintaran dan kejeniusan..sebenarnya terdiri sekumpulan susunan saraf yang mengatur semua kinerja tubuh kita. Ada segolongan manusia yang sombong, merasa bisa membuat "manusia' dengan otaknya yaitu robot. Sehingga mengeraskan hatinya yang keras (atau malah mati).Sehinga sadar ato tidak sudah menafikan ALLAH Sang Maha Pencipta. Tapi bila kita mau berkata jujur dari nurani, semuanya itu adalah kekuasan ALLAH semata. Mungkin mereka bisa membuat yang "mirip". Tapi sungguh buatan mereka jauh dari sempurna.
Membaca dari alam Alam, telah banyak mengajari kita. Mari kita perhatikan lalat ato nyamuk. Hewan yang begitu kecilnya, telah memiliki organ organ yang lengkap untuk kebutuhan mereka melangsungkan kehidupan. Bisakah kita bayangkan bagaimana sistem pernafasaanya, pencernaannya..siapakah yang dapat membuat, menciptakan hal yang demikian. Juga dari hewan capunglah manusia bisa membuat pesawat. Mari kita liat gunung, laut. Dengan adanya gunung terbentuk pula habitat yang khas, yang di dalamnya terdapat berbagai macam tanaman untuk kebutuhan manusia. Lalu laut di jadikan ALLAH berasa asin. Kenapa? Mari kita bayangkan, bagaimana jika laut adalah tawar rasanya. Maka akan sesaklah kehidupan kita, kenapa? Karena laut adalah tempat pembuangan sampah terbesar di dunia, di dalamnya berjuta kubik sampah, baik itu bangkai atau kotoran yang di bawa aliran sungai. Jika air laut tawar, bau busuk dari sampah sampah tersebut tiada akan netral, bau itu akan menyebar ke segala penjuru, memenuhi ruang yang ada. Bagaimanakah kita dapat hidup? Kita menghirup busuknya air saat kita buang air kecil ato besar(termasuk gas amoniak), kita sudah kebingungan. belum lagi kita liat tempat kita tinggal. Yaitu bumi. Kita manusia di banding bumi seberapa besarkah? sungguh bagai butiran debu yang sangat halus di permukaan bola kaki. kemudian kita cuba bayangkan bumi dalam tatasurya kita, (matahari dengan planet planet yang mengelilinginya) bumi kita dengan matahari yang kita liat saban hari tidak ada 1/100 nya tepat lupa..heheehe....Trus kita bandingkan lagi tata surya kita ini di banding galaksi kita yaitu Bima sakti itu cuma kayak debu juga, padahal di jagat raya ini ada bermilyar milyar galaksi. Mari kita bayangkan....matahari kita yang sebesar itu masih ada yang lebih besar jutaan kali!! Subhanallah walhamdulillah wallohu akbar!! Trus kita manusia seberapanya di banding jagat raya ini. Padahal yang ciptakan jagat ini adalah ALLAH. Masih bisakh kita besombong di hadapapNYA. masihkah kita berani mengingkari apa yang di ciptakan juga di perintahkan. Sungguh bila kita mau membaca alam, diri kita, maka akan kita temukan siapa sebenarnya kita. Dan akn kita temukan bahwa kita hidup semata untuk tunduk pada ALLAH
Baca Selanjutnya... |
| Sebuah Coretan Shady Huda El Fikri @ 10:40 PM |
|
|
|
| Sebuah Pencarian (!1) |
|
Ketika hidayah mendatangi kita, sungguh itu adalah rahmat ALLAH yang Dia sampaikan karena kasih sayangNYA, sehingga kita di berikan cahaya penerangan, cahaya islam. Kita pun terpacu, bersemangat menelusuri cahaya terang tersebut. Seketika diri merasa haus akan ilmu keislaman. Begitu menyedihkan rasanya ketika menengok kembali ke masa lalu, betapa rasa malu juga menyesal kenapa jalan yang telah dilalui penuh kehampaan. Dan mengkristallah sebuah azzam “ aku harus belajar islam lebih dalam”Kitapun belajar lebih mengenal apa itu islam, tapi beberapa saat kemudian kita terhenyak. Karena ternyata islam begitu banyak. Begitu banyak jamaah yang mengklaim diri paling benar, mengkafirkan jamaah lain. “Eh awas jamaah itu berbahaya, mereka sesat, yang paling benar ini , jamaahku.” Kata seseorang pada kita pada suatu ketika. “Tidak begitu, yang benar ini..” sanggah orang lain lagi di waktu yang lain.Begitulah pada umumnya, seseorang ketika hidayah telah datang, dia sudah di hadapkan pada kebingungan pada menentukan jamaah apa yang mesti di jadikan jalan kaffah dalam islam. Dan itu tidak hanya terjadi pada seseorang yang baru mendapatkan hidayah, adapula yang sudah bertahun tahun ikut pada suatu jamaah akhirnya dia mendapatkan hatinya tiada sependapat dengan pendapat jammah yang di ikutinya. Tentunya ini adalah sebuah proses. Proses pencarian. Pencarian kebenaran. Telah benar apa yang di ramalkan Rosululloh, bahwa umat islam akan terpecah menjadi benyak golongan. Dalam suatu hadist ada disebutkan 73 golongan. Dan golongan yang selamat adalah golongan yang mengikuti al qur’an dan sunnah. Dan semua jamaah yang ada menisbatkan diri pada apa yang di contohkan Rosul. Bagaimana kita memilahnya? Yang jelas dengan adanya kenyataan demikian bukan berarti kita harus berhenti berjalan, kita harus tetap berjalan. Karena waktu terus berjalan. Seperti dalm surat al Asr. ALLAH telah bersumpah atas nama waktu, bahwa manusia itu dalam kerugian, kecuali orang yang beramal saleh, saling menasehati dalam kebenaran juga kesabaran. Bagaimana kita dapat beramal saleh juga saling menasehati? Tentu dengan ilmu yang mesti kita pelajari sampai ajal menjemput. Dalam suatu hadist yang di riwayarkan Bhukori juga Muslim di katakan bahwa menuntut ilmu itu dari sejak dalam ayunan sampe kematian menjemput. Dalam hadist qudtsi juga di sebutkan bahwa kekuasaan ALLAH jikalau mau di tulis dengan tintanya air laut, tiada akan habisnya bahkan bila di tambahkan tinta sebanyak lautan itu tadi. Ini membuktikan bahwa kita mesti belajar trus belajar, sungguh rugi orang yang dalam hidupnya menyia-nyiakan waktu karena ilmu begitu banyak, bahkan sampai matipun masih banyak ilmu yang belum kita pelajari. Dengan belajar kita akan berproses. Proses untuk menjadi muslim sejati, muslim yang kaffah. Tapi pada kenyataannya mereka juga mengklaim bahwa mereka telah menjadi muslim yang kaffah.Wallohu alam siapakah yang paling benar di sisi ALLAH. Hanya dialah yang Maha Tahu. Kita manusia hanya di wajibkan untuk terus belajar mencari ilmu.Ilmu apakah yang mesti kita pelajari? Rosul di utus adalah untuk menyampaikan kalimat La illahailalloh. Ini artinya ilmu yang paling esensi adalah pengesaan ALLAH atau yang di sebut tauhid. Kita mesti benar akan arti tuahid. Faham apa arti syahadatain dengan segala konsekwensinya. Kemudian kita mesti faham siapa ALLAH, Nabi Muhammad dengan posisinya yang sesuai dengan syariat. Juga dengan konsekwnsinya. Yaitu mesti taan pada ALLAH sebagai Robb kita juga mencontoh Nabi muhammad sebagai teladan kita. Juga mengenal Al qur’an sebagai pedoman hidup kita. Bagaimana kita mengetahi semua itu. Tentu dengan belajar juga merenungkan sekaligus meresapi AL Qur’an dengan tafsirnya , juga siroh nabawiyah yaitu kisah perjalanan nabi yang di dalamnya terkandung hikmah juga pelajaran. Juga kitab kitab hadist dam masih banyak ilmu yang mesti kita pelajari. Berkenaan dengan fikroh sebuah harokah, kita mesti obyektif dalam menilai fikroh yang ada, tentunya dengan pertimbangan ilmu juga akal yang tidak berlebih lebihan. Karena ada sebuah fikroh yang lebih mengedepankan akal sehingga di katakan sebagai mu’tazilah gaya baru. Mu’tazilah adalah firqoh islam yang dalam berpendapat secara akal. Misalnya Alqur’an di katakan sebagai makhluk. Karena dalam akal mereka semua yang di ciptakan adalah makhluk. Untuk masalah ini, Ulama ahlus sunnah berpendapat al Qur’an bukan makhluk tapi kalam ALLAH, karena apa yang di sampaikan adalah kalimat yang berasal dari ALLAH. Ada yang ingin lebih selamat, dengan menyerahkan semuanya pada ALLAH.tidak ikut ikutan dalam polemik tersebut..Bagaimana memilah fikroh atau pemikiran yang ada yang merupakan dasar dari sebuah harokah. Karena adanya harokah adalah untuk mendakwahkan fikroh yang dia yakini. Mari kita coba telaah sebagian kecil dari perbandingan fikroh yang ada di sekitar kita. Ada harokah yang berdakwah dengan cara merubah sistem dahulu. Yaitu mendirikan sebuah sistem islam yaitu khilafah. Menurut mereka, pembinaan atau perubahan masyarakat hanya bisa dilakukan oleh sistem yang ada. Dengan langkah akhir ialah meminta penguasa yang ada untuk segera menerapkan sistem islam secara total. Tanpa adanya dukungan sistem tersebut, mustahil akan tercipta masyarakat yang ideal karena terbentur sistem. Sebagai contoh, dalam hal pendidikan. Idealnya adalah pendidikan yang tanpa adanya ikhtilat atau percampuran. Tetapi karena sistem yang tidak mendukung hal itu tidak dapat di lakukan. Insya ALLAh mereka berniat baik, tetapi yang mesti menjadi bahan renungan adalah, dalam merubah masyarakat dengan mengubah sistem dulu sangatlah sulit dan terlalu instan. Karena masyarakat adalah jiwa yang heterogen. Sehingga untuk menerima sistem tersebut adalah sulit bahkan bisa menimbulkan benturan jika tidak adanya pengertian dari masyarakat itu sendiri.dan untuk mengerti itu juga di perlukan sebuah proses. Soerang penguasa adalah termasuk dari bagian dari masyarakat juga. Ketika dia di tawarkan sebuah sistem islam untuk mengganti sistem yanga ada, tentu tegantung dengan kondisi rohani penguasa tersebut. Bila ternyata penguasanya belum terbina, so sistem yang di tawarkan akan mental dan harapan sistem islampun akan jadi impian kembali. Firqoh tersebut memposisikan sebagai oposisi, mereka tidak mau ikut dalam sistem yang ada karena mereka yakini sistem yang ada adalah sistem kufur yang haram untuk di ikuti. So mereka adalah orang yang anti pemilu, karena memang selain sistem islam tidak mereka akui. Menurut penulis, ghiroh mereka patut kita acungi jempol, militansi mereka akan islam tidak di ragukan. Tapi juga perlu ada catatan tentang cara gerak langkah mereka.Sebagai bahan pertimbangan atau perbandingan, ada fikroh yang di dalam pembinaan masyarakat, bukan mulai dari sistem dulu, tapi elemen2 sistem dulu yang mesti di perbaiki. Yaitu pada pembentukan pribadi pribadi menjadi insan kamil dahulu. Karena merekalah sel pembentuk masyarakat. Dengan berkumpulnya pribadi pribadi sholeh sholehah dalam wadah bernama keluarga yang bernafas dan bersemangat islam. Dari keluarga inilah akan terbentuk masyarakat yang islami. Adapun mengenai sistem yang ada, ketika ternyata sistemnya belum islami, misalnya pendidikan yang penuh ikhtilat, dengan adanya individu , keluarga dan masyarakat islami, mereka bisa membentuk badan pendidikan tersendiri yang sesuai dengan syar’i. Contoh konkretnya , bisa kita lihat munculnya yayasan yayasan yang mendirikan sekolah islam terpadu, TKIT, SDIT atau SMPIT. Seandainya dari penguasa membuat larangan dengan undang undang melarang lembaga pendidikan tersebut, bisa saja terjadi. Semuanya akan di tutup. Nah inilah peran pembinaan individu. Para penguasa itu adalah bagian dari masyarakat yang merupakan individu. Apabila kita intensifkan pembinaan pada individu ini, maka akan terbentuk penguasa yang islami, tapi dalam kontek negara kita penguasa juga tergabung dalam kelembagaan, yang terdiri dari berbagai warna inividu. Di sinilah juga peran pembinaan individu. Bagaimana pembinaan inividu di lembaga ini bisa efektif, tentu dengan menjadi bagian lembaga tersebut, berkumpul dengan mereka, memberi contoh juga memberi nasehat pada mereka. Tidaklah efektif bila untuk merubah mereka hanya dengan berteriak dari luar, tanpa menyentuh hati mereka secara langsung. Tentu ini memerlukan proses bertahap karena memang manusia di berikan akal untuk memilah juga memilih apa yang menjadi arah hidupnya. Untuk inilah fikroh tarbiyah membentuk partai politik yang mengikuti sistem sekarang ini.
Bila kita melihat dengan dalil. Bagi segolongan ummat ada yang tidak masuk parlemen karena parlemen adalah sistem kufur dan umat islam tidak boleh menyentuhnya samasekali dengan dalil siroh nabi, ketika Nabi Muhammad di tawari untuk berdamai dalam dakwah yaitu dengan cara untuk satu waktu menyambah ALLAH lain waktu menyembah tuhan mereka, demikian selang seling. Nabipun dengan tegas menolak setelah turun wahyu al kafirun. Dengan dalil itu mereka berpendapat tidak mau kompromi, satu meja dengan orang kafir. Sedang untuk sebagian yang lain berpendapat, bahwa turunnya suroh al kafirun tersebut adalah sebagai penegasan bahwa kita tidakmau kompromi dengan orang kafir dalam hal tauhid. Bila kita simak isinya juga asbabun nuzulnya, jelas karena penawaran mereka adalah hal masalah ibadah, penyembahan tuhan. dan ini berkenaan dengan Taihid. Sedang apabila permufakatan bersama mereka dalam hal kebaikan bersama dalam damai asal tidak melanggar syariat ALLAH tiada mengapa. Hal itu bisa kita simak pada siroh, saat Nabi mengadakan perjanjian perdamaian hudaibiah. Dalam perjanjian itu, nabi malah mengalah untuk tidak menuliskan Muhammad Rosulullah, tapi Muhammad bin Abdullah. kenapa? karena perjanjian tersebut pada hekekatnya juga untuk kebaikan islam juga. dan isinyanya juga tidak melanggar tauhid dan syar'i. Nabi melihat dengan adanya perdamaian, hidup berdampingan, tidak saling memusuhi akan lebih baik bagi dakwah islam, karena ada jaminan tidak saling menyerang juga mengganggu. Kita lihat kembali dengan akal kita yang sederhana. Apabila kita tidak satu meja untuk mengadakan perjanjian atau kesepakatan dengan orang orang non muslim di parlemen, bagaimana kita bisa merubah sistem atau mengadakan perkembangan sikon yang kondusif bagi islam. Karena pada kenyataannya kita hidup berdampingan dengan orang kafir dzinmi(kafir yang tidak melakukan penyerangan). apabila kita tidak berjuang lewat parlemen, maka setiap kebijaksanaannya akan selalu menyudutkan islam. Dan mereka yang menginginkan khilafah secara instan, yaitu dengan cara menawarkan sistem kepada penguasa berpendapat bahwa cara yang mereka tempuh telah sesuai dengan contoh nabi pada sirohnya. Dalam pengertian mereka, bahwa nabi mendakwahi para kabilah yang datang ke mekah, mengajak mereka masuk islam dan meminta kepada mereka kekuasaan, menjadi pemimpin mereka. Bila kita simak kembali siroh, Nabi dalm berdakwah yang paling utama adalah menyerukan kalimat tauhid, kalimat syahadat. Bukannya untuk memperoleh kekuasaan atas para kabilah, kalaupun beliau di nomorsatukan, karena semata beliau adalah rosulullah, manusia yang paling mengerti akan agama yang di sampaikan. Tetapi bukan sekali kali meminta kekuasaan.
Baca Selanjutnya... |
| Sebuah Coretan Shady Huda El Fikri @ 10:39 PM |
|
|
|
| AKAL DAN HATI |
|
Subhanallah.. Maha suci ALLAH Tuhan semsta alam, sungguh manusia di karuniai akal, suatu karunia yang seharusnya kita syukuri tiada henti hentinya, karena dengan akal kita bisa merenungkan akan hakekat sebuah kehidupan. sebuah hakekat yang akan hantarkan kita pada kebahagiaan abadi. kebahagiaan di negeri yang sangat indah, yang tiada seoerangoun manusia dapat merasakan. melihat bahkan mendengarpun belum. (Klo nabi MUhammad Insya ALLAh udah ya ..khan pernah di perlihatkan oleh ALLAH dalam isra' mi'raj) Astagfirullah....naudzubillahi mindzalik...semoga kita terhindar, manusia dengan akal juga dapat menjerumuskan dirinya pada lubang kehinaan, jurang kehancuran. Ketika manusia begitu mengagungkan akal, sehingga ALLAH sang pencipta dirinya pun di akal-akalkan. Ada godaan yang sangat halus sekali, dengan dalih, penggunaan akal sesuai karunia ALLAH, tapi dia "ngakal'ngakali' ALLAH. dengan berkata dan bertanya tentang ALLAH. Di manakah ALLAH, bagaiamana dia duduk di atas ArsyNYA? Bagaimana mungkin yang mula adalah yang akhir juga..Apakah ruh itu? bagaiamana tentang itu?...dan masih banyak jutaan tanya tentang hal tersebut. Maka kita katakan: Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [Al-Hasyr 22] Ruh yang tahu hanyalah ALLAh, manusia hanya mengetahui hanyalah sedikit, sebatas apa yang telah di kabarkan oleh nbi MUhammad SAW. Ikhwah semua, mari kita gunakan akal kita untuk taffakur, merenungkan kembali ayat ayat ALLAh yang telah tersurat juga tersirat dalam ciptaanNYA.Niscaya kita akan dapati kebenaran hakiki, sebagai pangkal kebahagiaan abadi. tapi ingat, akalpun banyak bisa terkena penyakit yang bersumber dari hati yang tiada bersih. Maka dalam taffakur kita juga mesti senantiasa menjaga hati kita dari bisikan bisikan yang kelihatannya indah dan mengajak kebenaran tapi sesungguhnya itu tipuan dari iblis , syaiton yang menelusup ke dalam hati. Kita juga sangat di anjurkan untuk berdoa semoga hati kita selalu di palingkan untuk selalu menghadap pada ALLAH bersambunng....
Baca Selanjutnya... |
| Sebuah Coretan Shady Huda El Fikri @ 10:34 PM |
|
|
|
| AKHLAQ MUSLIM SEJATI |
| Sunday, April 09, 2006 |
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعينومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:Sesungguhnya Alloh telah menjadikan Islam sebagai risalah penutup yang langgeng untuk seluruh manusia dengan beragam warna kulit dan jenis mereka serta di manapun dan kapan pun mereka berada. Dan Alloh telah memberikan Islam berbagai keistimewaan tersendiri yang menakjubkan, seperti ajarannya yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, sifat wasathiyyah yaitu tengah-tengah antara sifat ifrath (ghuluw/berlebihan) dan sifat tafrith (lalai dan meremehkan), serta senantiasa aktual dan sesuai untuk setiap waktu dan tempat. Maka dengan karunia Alloh, Islam menjadi petunjuk dan pembimbing bagi manusia, petunjuk menuju jalan kebahagiaan, kebaikan, kegembiraan dan kesenangan di dunia dan akhirat. Dan sebagaimana telah dimaklumi bahwa ajaran-ajaran Islam meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengatur hubungan antara pribadi manusia dengan Alloh Penciptanya, hubungan antara pribadi seseorang dengan yang lain dan hubungan antara pribadi seseorang dengan dirinya sendiri. Tiada satu pun sifat keutamaan dan akhlak mulia melainkan Islam menyeru kepadanya dan menganjurkan untuk berpegang dengannya. Sebaliknya tiada satu pun sifat kejelekan dan akhlak melainkan Islam peringatkan tentang bahayanya dan memerintahkan untuk menjauhinya. Sehingga kehidupan manusia bisa tertib dan teratur di bawah aturan Alloh yang kokoh, yang jika seseorang menjalankan ajaran-ajarannya ia akan sukses dan beruntung, sedangkan jika ia menjauhinya maka ia akan merugi. Akhlak mulia merupakan salah satu asas terpenting dalam ajaran Islam untuk membina pribadi dan memperbaiki masyarakat. Karena keselamatan masyarakat, kekuatan, kemuliaan, dan kewibawaan pribadi-pribadinya sangat tergantung kepada sejauh mana mereka berpegang dengan akhlak mulia tersebut. Dan masyarakat akan hancur dan rusak tatkala mereka meninggalkan dan menjauhi akhlak yang terpuji. Setiap syariat dan agama memiliki perhatian yang serius terhadap gejala penyakit akhlak yang dapat menjadikan masyarakat terperosok. Dan dengan masing-masing ajarannya memperingatkan umatnya akan bahaya akhlak yang buruk serta menyeru agar mereka menjauhinya. Sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa suatu umat yang bisa bangkit dan tegak, maju dan cemerlang peradabannya, adalah karena pribadi-pribadi mereka memiliki jiwa yang kuat, tekad yang bulat, cita-cita yang luhur, akhlak yang terpuji, perjalanan hidup yang mulia, saling berhubungan dengan erat di antara mereka dan keluarga mereka. Mereka menjauhi hal-hal yang merusak, perbuatan-perbuatan hina dan buruk, tidak melampiaskan nafsu mereka dalam segala kelezatan dan syahwat, jauh dari kejahilan dan penyimpangan. Dan kita dapati semua itu dalam ajaran-ajaran Islam, karena Islam mengarahkan setiap pribadi manusia untuk membina fisik dan jiwanya secara sempurna dan seimbang, tidak timpang pada salah satunya. Islam menyeru agar mereka berpegang dengan akhlak mulia dan mendakwahkannya, dan agar mereka meninggalkan serta menjauhi segala akhlak yang buruk. Ajaran akhlak yang mulia ini telah diperlihatkan oleh suri teladan umat ini yaitu Rosululloh yang telah disifati oleh Alloh dengan firman-Nya,وإنك لعلى خلق عظيم“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang mulia.” (QS. Al Qalam: 4) Sa’ad bin Hisyam pernah bertanya kepada ‘Aisyah radhiallohu ‘anha tentang akhlak Rosululloh, maka ‘Aisyah radhiallohu ‘anha menjawab,كان خلقه القرآن“Akhlak beliau adalah Al Quran.”Lalu Sa’ad berkata, “Sungguh saya ingin berdiri dan tidak lagi menanyakan sesuatu yang lain.” (HR. Muslim) Oleh karena itu, Rosululloh merupakan sosok pribadi yang paling bagus akhlaknya seperti yang disaksikan oleh Anas bin Malik (pembantu Rosululloh) selama sepuluh tahun- ketika beliau berkata,كان رسول الله أحسن الناس خلقا“Rosululloh adalah orang yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Muslim) Maka pantaslah Rosululloh menjadi suri teladan bagi kita dalam segala aspek kehidupan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang telah diberitakan oleh Alloh dalam firman-Nya,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pertemuan dengan) Alloh dan (keselamatan di) hari akhir dan dia banyak menyebut Alloh.” (QS. Al Ahzab: 21) Dan Rosululloh sendiri telah memotivasi umatnya yang beriman untuk berpegang teguh dengan akhlak yang bagus dan menjauhi akhlak yang buruk, seperti dalam sabda-sabda beliau berikut ini: - Dari Abu Darda’ bahwa Nabi bersabda,ما من شيء أثقل في ميزان المؤمن يوم القيامة من حسن الخلق، وإن الله تعالى ليبغض الفاحش البذيء“Tiada suatu perkara yang paling memberatkan timbangan (kebaikan) seorang mukmin pada hari kiamat selain daripada akhlak mulia, dan sesungguhnya Alloh amat benci kepada seorang yang buruk perbuatan dan ucapannya.” (HR. At Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Albani) - Dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab,تقوى الله وحسن الخلق“Bertakwa kepada Alloh dan berakhlak mulia.” Sementara ketika ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab,الفم والفرج“Mulut dan kemaluan” (HR. Tirmidzi dan dihasankan sanadnya oleh Syaikh Albani) Dan Rosululloh menjelaskan bahwa mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling sempurna akhlaknya, seperti yang beliau sabdakan,إن أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا، وخياركم خياركم لنسائهم“Sesungguhnya mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling bagus akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Albani) Bahkan Rosululloh telah menjadikan orang-orang yang berakhlak mulia sebagai orang-orang yang paling dekat duduknya dengan Rosululloh sebagaimana dalam sabdanya,إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا، وإن أبغضكم إلي وأبعدكم مني مجلسا يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون، قالوا: يا رسول الله، قد علمنا الثرثارون والمتشدقون فما المتفيهقون؟ قال: المتكبرون“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya, dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah tsartsarun (yang banyak bicara), mutasyaddiqun (yang bicara sembarangan lagi mencela manusia) dan mutafaihiqun. Para sahabat berkata, “Wahai Rosulullah, kami telah mengetahui tsartsarun dan mutasyaddiqun, tapi siapakah mutafaihiqun itu?” Rosulullah menjawab, “Mutakabbirun (orang-orang yang sombong).” (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Albani) Namun, problem yang amat jelas kita lihat di dunia Islam sekarang yaitu bahwa umat Islam telah meninggalkan akhlak mulia yang diseru oleh agama mereka sendiri yang bersumber dari Al Kitab dan As Sunnah. Kita melihat bahwa agama Islam berada di suatu tempat dan kaum muslimin berada di tempat lain yang berjauhan. Seorang muslim hanya membawa Islam pada nama dan KTP-nya saja. Tetapi dalam praktek keseharian, muamalah dan seluk beluknya tidak didapati nilai-nilai ajaran Islam yang mulia tersebut. Arahan-arahan Islam tidak berlaku, norma-normanya tidak memiliki tempat, dan kaidah-kaidah Islam tidak lagi terhormat dalam diri mereka. Demikianlah kenyataan yang memilukan yang menimpa umat Islam, yang semakin hari sepertinya semakin jauh dan lalai dari mempraktekkan nilai-nilai agama mereka yang mulia, sehingga pantas pula jika umat Islam mengalami berbagai bencana hari demi harinya, kekalahan-kekalahan di setiap tempat mereka, serta ketertinggalan dari umat-umat yang lain. Umat Islam sepertinya tidak lagi memiliki ‘izzah (kemuliaan dan kewibawaan) yang dapat membuat umat-umat lain segan kepada mereka. Itu semua karena umat Islam tidak berpegang teguh dengan nilai-nilai ajaran agama mereka. Benarlah apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab,إنا كنا أذل قوم فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العز بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله“Kita dahulu adalah kaum yang terhina lalu Alloh memuliakan kita dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan dengan selainnya niscaya Alloh akan meghinakan kita.” (HR. Hakim dan ia berkata, “Shahih sesuai syarat/standar Bukhari dan Muslim, dan disahihkan oleh Syaikh Albani dalam ‘Shahih at Targhib wa at Tarhib’) Dan kaum muslimin akan tetap berada dalam kehinaan selama mereka meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang agung lagi mulia dan cenderung mengikuti hawa nafsu dalam meraih kemewahan dunia sampai mereka mau kembali kepada agama mereka. Nabi bersabda,إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينـزعه حتى ترجعوا إلى دينكم“Apabila kalian berjual-beli dengan ‘inah (riba), memegangi ekor-ekor sapi dan senang dengan cocok tanam (yakni lebih condong kepada kesenangan dunia), serta meninggalkan jihad, niscaya Alloh akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan Alloh cabut sampai kalian mau kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud dan disahihkan oleh Syaikh Albani) Maka sudah saatnya bagi kaum muslimin untuk bangkit dengan kembali kepada ajaran-ajaran agama mereka yaitu Islam yang lurus, agar mereka dapat kembali memperoleh ‘izzah (kemuliaan dan kewibawaan) seperti yang telah diraih oleh pendahulu mereka Salafus Shalih sehingga mereka akan menjadi umat yang kuat dan kokoh yang disegani oleh umat-umat lainnya. Tentunya yang paling penting adalah menggali kembali nilai-nilai mulia Islam tersebut dengan mempelajari Kitabullah dan Sunnah Rosululloh serta siroh kehidupan as Salaf ash Shalih yang telah mewariskan jejak-jejak mulia yang harus kita telusuri dan ikuti, di antaranya adalah warisan akhlak yang baik dan mulia. Wallohul Muwaffiq. (Dari Tauthi’ah pentahqiq kitab Makarimul Akhlak karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –dengan perubahan-) Definisi AkhlakAkhlak menurut etimologi bahasa Arab adalah bentuk jamak dari Khuluq yang di antaranya berarti jalan hidup, adat kebiasaan, tabiat dan perangai. (Ibnul Atsir dalam Gharibul Hadits). (Dari Risalah Min Akhlak ar Rosul al Karim hal. 20 – Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad)Sedangkan menurut istilah ia mengandung dua makna, salah satunya lebih umum dari yang lain, yaitu: Sifat yang tertanam dengan kokoh dalam setiap jiwa, baik yang terpuji maupun tercela. (Min Akhlak ar Rosul al Karim hal. 20 – Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad) atau dengan ungkapan lain yaitu : Gambaran batin yang telah ditabiatkan kepada manusia. (Kitab al Ilmi hal. 256– Syaikh Ibnu Utsaimin) Sifat yang berwujud sikap berpegang teguh kepada hukum-hukum dan adab-adab syariat, baik berupa perintah yang harus/perlu dikerjakan atau larangan yang harus/perlu ditinggalkan. (Min Akhlak ar Rosul al Karim hal. 20– Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad) atau dengan kata lain bahwa jenis kedua ini dapat dihasilkan dengan usaha dan latihan yang diupayakan oleh manusia. (Kitabul Ilmi hal. 256 – Syaikh Ibnu Utsaimin) Jadi, akhlak itu ada yang berupa tabiat dan perangai yang telah ditanamkan oleh Alloh pada setiap jiwa manusia dan bersifat umum, meliputi perangai yang terpuji dan tercela. Dan ada pula yang berupa sifat yang diusahakan dengan mempelajari dan berpegang teguh kepada hukum-hukum dan adab-adab syariat dan ini lebih khusus dari yang pertama. Contoh jenis pertama adalah seperti apa yang dikatakan Nabi kepada Asyaj Abdul Qais ,إن فيك لخلقين يحبهما الله: الحلم والأناة، فقال: أخلقين تخلقت بهما ؟ أم خلقين جبلت عليهما ؟ فقال: بل خلقان جبلت عليهم، فقال: الحمد لله الذي جبلني على خلقين يحبهما الله تعالى.“Sesungguhnya ada pada dirimu dua perangai yang disukai oleh Alloh yaitu santun dan hati-hati (tidak tergesa-gesa).” Asyaj berkata, “Apakah dua perangai tersebut adalah yang kuupayakan atau yang ditabiatkan kepadaku?” Nabi menjawab, “Dua perangai yang telah ditabiatkan kepadamu.” Maka Asyaj pun berkata, “Segala puji bagi Alloh yang telah mentabiatkan dua perangai yang Alloh sukai.” (HR. Abu Daud –dengan lafaz yang mendekati- dan lafaz ini dinukil dari Syarah al Aqidah ath Thahawiyah serta disahihkan oleh Syaikh Albani. Dan bagian pertama asalnya ada dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan selainnya). (Min Akhlak ar Rosul al Karim hal. 256) Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa hadits ini menjadi dalil yang menunjukkan adanya akhlak terpuji yang berupa tabiat asal yang diberikan oleh Alloh kepada diri seseorang dan ada yang diupayakan. Dan bahwa yang merupakan tabiat itu lebih utama daripada yang diupayakan. (Kitab al Ilmi: 256) Adapun contoh jenis kedua adalah apa yang terisyaratkan dalam sabda beliau,البر حسن الخلق“Kebaikan itu (terletak pada) akhlak yang bagus/mulia.” (HR. Muslim) Dan seperti dalam jawaban ‘Aisyah radhiallohu ‘anha ا ketika menafsirkan firman Alloh ,وإنك لعلى خلق عظيمIa menjawab,كان خلقه القرآن“Akhlaknya (Rosululloh) adalah Al Quran.” (HR. Muslim) (Min Akhlak ar Rosul al Karim hal. 21). Dan tentunya yang kita bahas adalah akhlak yang terpuji. Aspek Cakupan AkhlakBanyak orang yang memahami dan mengira bahwa akhlak mulia itu hanya menyangkut hubungan dengan makhluk yang lain dan tidak menyangkut hubungan dengan Khaaliq (Alloh). Namun itu merupakan pemahaman yang salah, karena akhlak mulia ini juga mencakupi hubungan dengan Khaaliq (Alloh) sebagaimana mencakupi hubungan dengan makhluk. Adapun yang menyangkut hubungan dengan Alloh, maka terangkum dalam tiga hal pokok yaitu:1. Membenarkan segala kabar berita dari Alloh.2. Melaksanakan dan merealisasikan hukum-hukumNya.3. Bersabar dan ridho terhadap takdir Alloh. Inilah tiga perkara pokok yang bermuara kepadanya berbagai macam akhlak mulia terhadap Alloh. Berikut ini sedikit penjelasan tentang tiga hal tersebut. I. Membenarkan segala berita dari Alloh.Artinya bahwa seseorang tidak boleh ragu dan bimbang terhadap kebenaran berita dari Alloh, karena Alloh subhanahu wa ta’ala tidaklah memberitakan sesuatu melainkan atas dasar ilmu-Nya lagi Dia adalah Yang paling benar perkataannya sebagaimana firman-Nya,ومن أصدق من الله حديثا“Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Alloh.” (QS. An Nisaa: 87) Dengan akhlak ini seseorang bisa membela segala berita yang bersumber dari Alloh dan menjawab semua syubhat, baik dari kalangan kaum muslimin yang mengadakan bid’ah dalam agama maupun dari luar kaum muslimin. Demikian pula terhadap kabar berita dari Rosululloh, maka seseorang juga harus meyakini kebenarannya apalagi kalau itu adalah berita tentang perkara gaib yang sudah jelas bahwa beliau tidak mengatakannya kecuali dari wahyu Alloh. Alloh berfirman ketika menceritakan Rosul-Nya,وما ينطق عن الهوى، إن هو إلا وحي يوحى“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm: 3-4) Sebagai contoh bahwa beliau pernah bersabda,إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه ثم لينزعه، فإن في إحدى جناحيه داء والأخرى شفاء“Apabila lalat jatuh ke dalam minuman salah satu dari kalian maka celupkanlah (lalat tersebut) kemudian buanglah, karena pada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap yang lainnya ada penawar.” (HR. Al Bukhari) Maka dalam hadits ini terdapat berita dan termasuk perkara gaib yang tidak mungkin beliau mengatakannya dari diri beliau sendiri tanpa wahyu dari Alloh. Karena beliau adalah manusia yang tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang diwahyukan kepada beliau. Bahkan Alloh yang memerintahkan Rosul-Nya, قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيّKatakanlah, “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Alloh ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku…” (QS. Al An’am: 50). Maka berita Rosululloh di atas harus disikapi dengan akhlak mulia yaitu dengan menerimanya sepenuh hati dan bahwa apa yang diberitakan oleh Rosululloh adalah haq dan benar meskipun ada orang-orang yang membantahnya. (Lihat Kitab al Ilmi: 257-258) II. Melaksanakan dan Merealisasikan Hukum-hukum AllohAkhlak seseorang terhadap hukum-hukum Alloh adalah dia harus menerimanya lalu melaksanakan dan merealisasikannya. Tidak menolak satu pun hukum Alloh. Jika seseorang menolaknya maka itu merupakan bentuk akhlak yang buruk terhadap Alloh yang telah menciptakannya. Dan penolakan ini mencakupi pengingkaran terhadap hukum tersebut, tidak mau mengamalkannya dengan kesombongan atau meremehkan pengamalannya. Misalnya ibadah shiyam (puasa) yang dirasa berat bagi seseorang, karena dia harus meninggalkan hal-hal yang disukainya dan dibutuhkannya seperti makan, minum dan jima’. Tetapi seorang mukmin yang bagus akhlaknya terhadap Robbnya ia akan menerima beban berat tersebut dengan lapang dada dan tenang, maka ia pun menjalani hari-hari panjang yang panas dalam keadaan ridho dan lapang dadanya, karena dia orang yang berakhlak bagus terhadap Robbnya. Berbeda halnya dengan yang buruk akhlaknya terhadap Alloh, maka ia akan mengeluh dan tidak menyukai ibadah ini. Dan kalaulah bukan karena kekhawatirannya terhadap suatu akibat buruk tentulah dia tidak akan menunaikan shiyam. (Lihat Kitabul Ilmi: 259) III. Bersabar dan Ridho terhadap Takdir AllohKita semua mengetahui bahwa takdir Alloh yang berlaku pada setiap hamba itu ada yang menyenangkan hamba dan ada yang tidak. Misalnya setiap orang menginginkan sehat dan tidak menginginkan sakit. Tetapi Alloh menakdirkan dengan hikmah-Nya untuk memvariasikan dua keadaan tersebut pada setiap manusia. Maka seperti apa akhlak yang mulia terhadap Alloh dalam masalah takdir-Nya ini? Yaitu seseorang harus ridho dengannya dan tenang menerimanya. Dan meyakini bahwa tidaklah Alloh menakdirkan itu semua melainkan untuk suatu hikmah dan tujuan yang terpuji. Oleh karena itu Alloh memuji orang-orang yang bersabar –ketika ditimpa musibah dan mengucapkan kalimat istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi rooji’un)- dalam firman-Nya,وبشر الصابرين“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (QS. Al Baqorah: 155) (Lihat Kitabul Ilmi hal. 256-262 –secara ringkas dan dengan perubahan-) Di antara bentuk-bentuk akhlak mulia terhadap Alloh juga adalah sebagai berikut: a. IkhlasYaitu memurnikan ibadah hanya untuk Alloh seperti yang Alloh firmankan,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al Bayyinah: 5) فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَهُ الدِّين َ، أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Maka sembahlah Alloh dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Alloh-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az Zumar: 2-3) Di antara ciri ikhlas adalah seseorang mengerjakan ibadah dengan kontinu dan tetap istiqomah dalam ibadahnya tersebut. Seperti diisyaratkan dalam sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,استقيموا و لن تحصوا و اعلموا أن خير أعمالكم الصلاة و لا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن“Istiqamahlah sampai tak terhingga, dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amalan kalian adalah sholat, dan tidak ada yang memelihara wudhu kecuali mukmin.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, disahihkan oleh Syaikh Albani). Dan hadits:إذا رأيتم الرجل يعتاد المساجد فاشهدوا له بالإيمان“Jika kalian melihat seseorang membiasakan diri (shalat di) masjid, maka saksikanlah bahwa ia seorang mukmin.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya. Dan ada kelemahan pada sanadnya meskipun maknanya sahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Albani dalam ta’liq/catatan beliau terhadap kitab Riyadhus Shalihin pada hadits no. 1067) (Makarimul Akhlak hal.27-28) b. TakwaSesuai perintah Alloh,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُوراً تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ“Hai orang-orang yang beriman (kepada para Rosul), bertakwalah kepada Alloh dan berimanlah kepada Rosul-Nya, niscaya Alloh memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kalian…” (QS. Al Hadid: 28) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al Ahzab: 70). (Makarimul Akhlak hal. 35-36) c. Rasa MaluSifat malu yang dimaksud adalah yang bisa mencegah seseorang dari berlaku buruk dan maksiat kepada Alloh. Oleh karena itu Nabi menggolongkan sifat malu seperti ini sebagai bagian dari keimanan dalam sabdanya,((الحياء من الإيمان))“Malu adalah bagian dari iman.” (HR. Muslim) (Makarimul Akhlak hal. 73) d. TaubatTaubat adalah di antara bentuk ibadah yang agung, yang maknanya adalah seseorang kembali kepada Alloh dan memohon ampunan-Nya setelah berbuat salah dan dosa. Sebesar apapun dosa dan kesalahan hamba, bila dia bertaubat kepada Alloh niscaya Alloh akan mengampuninya dan menghapus dosanya tersebut. Alloh berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُKatakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya…” (QS. Az Zumar: 53-54) Bahkan meskipun itu dosa kekafiran, jika seorang kafir meninggalkan kekafirannya dan menuju Islam, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni. Alloh berfirman,قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ….“Katakanlah kepada orang-orang kafir, jika mereka berhenti (dari kekafirannya) niscaya akan diampuni dosa-dosa mereka yang terdahulu.” (QS. Al Anfal: 38) Dan Nabi pernah berkata kepada ‘Amr bin al ‘Ash yang dahulunya termasuk pembesar orang-orang kafir,يا عمرو: أما علمت أن الإسلام تجب ما كان قبله“Wahai ‘Amr, tidakkah kau tahu bahwa Islam akan menutupi (dosa-dosa) yang terdahulu.” (HR Muslim) (Makarimul Akhlak hal. 103-105) Dan lain sebagainya. Adapun akhlak mulia terhadap sesama makhluk khususnya terhadap sesama Muslim, maka telah didefinisikan oleh al Hasan al Bashri rahimahulloh yang menyatakan bahwa akhlak mulia itu adalah:كف الأذى، وبذل الندى، وطلاقة الوجه“Tidak menyakiti, ringan tangan (suka menolong) dan bermuka manis terhadap yang lain.” Maka dalam perkataan beliau terdapat tiga hal pokok yang merupakan akhlak mulia terhadap sesama makhluk, yaitu: 1. Tidak menyakiti orang lain. Baik terkait dengan harta, jiwa maupun harga dirinya. Barang siapa yang tidak bisa menahan diri dari menyakiti orang lain maka berarti dirinya berakhlak buruk. Padahal Rosululloh telah menyiarkan hal ini di hadapan kumpulan yang terbesar dari umatnya yaitu ketiak haji wada’ dengan sabdanya,إن دماءكم، وأموالكم، وأعراضكم، عليكم حرام، كحرمة يومكم هذا، في شهركم هذا، في بلدكم هذا “Sesungguhnya darah, harta dan harga diri kalin itu haram (terhormat), seperti terhormatnya hari, bulan dan negeri kalian ini.” (HR. Bukhori dan Muslim) Maka jika seseorang berkhianat dalam harta orang lain, memukul dan berbuat jahat terhadap orang lain atau mencela harga diri dan menggunjing orang lain, berarti dia bukan seorang yang berakhlak mulia terhadap sesama. Misalnya berlaku buruk terhadap tetangga, maka Nabi telah mengatakan tentang orang yang berlaku demikian dalam sabdanya,والله لا يؤمن، والله لا يؤمن، والله لا يؤمن قيل: من يا رسول الله؟ قال: الذي لا يأمن جاره بوائقه رواه البخاري ومسلم، وفي رواية لمسلم لا يدخل الجنة من لا يأمن جاره بوائقه –والبوائق هي الشرور-.“Demi Alloh tidaklah seorang beriman (3x).” Beliau ditanya, “Siapakah itu wahai Rosululloh?” Beliau menjawab, “Yaitu yang tetangganya tidak merasa aman dengan kejahatannya.” Dalam riwayat Muslim: “Tidak akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (Kitabul Ilmi hal. 262 263) Dan seorang muslim yang dapat menahan diri dari menyakiti orang lain dengan lidah maupun anggota badannya, maka ia adalah muslim sejati, sebagaimana sabda Nabi ,المسلم من سلم الناس من يده ولسانه…“Muslim (sejati) adalah yang orang lain selamat dari (gangguan) tangan dan lidahnya…” (Muttafaqun ‘alaihi) (Ushul al Manhaj al Islami hal. 541) 2. Ringan tangan (suka menolong/dermawan)Sifat menolong dan dermawan bukan hanya dengan harta, tetapi meliputi pengorbanan jiwa, kedudukan dan harta. Jika seseorang memenuhi kebutuhan manusia, membantu dalam mengarahkan urusan mereka, menebarkan ilmu dan membagi-bagikan hartanya kepada manusia, maka kita menyifati dirinya sebagai orang yang berakhlak mulia karena dia telah berkorban dalam hal-hal tersebut. Nabi bersabda,اتق الله حيثما كنت، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن“Bertakwalah kepada Alloh di manapun kau berada, dan susullah keburukan itu dengan kebaikan, serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ad Darimi dan dihasankan derajatnya oleh Syaikh Albani) Maka jika seseorang dizalimi atau diperlakukan buruk oleh orang lain maka lebih baik memaafkannya. Karena Alloh memuji orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain dalam firman-Nya tentang sifat penghuni surga,الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134) Alloh juga berfirman,وأن تعفوا أقرب للتقوى“dan kamu memaafkan itu lebih dekat kepada ketakwaan.” (QS. Al Baqarah: 134) Demikian pula dalam firman-Nya,فمن عفا وأصلح فأجره على الله“maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh.” (QS. Asy Syura: 40) Artinya bahwa memaafkan kesalahan orang lain termasuk bentuk menolong, karena dengannya telah menggugurkan tanggungan dosa atau kafarah dari orang tersebut. 3. Bermuka manis Artinya seseorang menampakkan wajah yang ceria dan berseri di hadapan orang lain. Nabi pernah bersabda,لا تحقرن من المعروف شيئا، ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق“Janganlah kamu meremehkan sedikit pun perkara makruf/kebaikan, walaupun sekedar bertemu saudaramu dengan wajah berseri.” (HR. Muslim) Karena wajah ceria dan berseri membuat orang yang ditemui merasa senang, dan dapat mendatangkan kecintaan dan membuat hati lega, baik hatinya maupun hati orang lain. Dan di antara akhlak mulia yang harus diketahui oleh seseorang adalah mempergauli orang-orang dekatnya dengan pergaulan yang baik, seperti teman-temannya, karib kerabatnya, keluarganya. Yaitu dengan tidak merasa sempit/tertekan bersama mereka atau tidak menyempitkan dan menekan mereka, namun semestinya ia bisa membuat mereka senang dalam batasan-batasan syariat Alloh. Nabi bersabda,((خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي))“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku daripada kalian.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Disahihkan oleh Syaikh Albani) Dan di antara yang paling berhak mendapatkan pergaulan yang baik dari seseorang adalah orang tuanya, terutama ibunya. Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi lalu bertanya,يا رسول الله، من أحق الناس بحسن صحابتي؟ قال: أمك، قال: ثم من؟ قال: أمك، قال: ثم من؟ قال: أمك، قال: ثم من؟ قال: أبوك. رواه البخاري ومسلم “Siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik?” Maka Nabi menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Lalu bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim). (Kitabul Ilmi: 263-268) Dan sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa akhlak mulia itu ada yang berupa tabiat asal yang diberi oleh Alloh dan ada yang dihasilkan melalui jalur usaha dan upaya. Dan bahwa yang berupa tabiat lebih sempurna daripada yang diupayakan. Sedangkan yang diperoleh dari jalur usaha bisa jadi seseorang terluput dalam banyak hal, karena ia perlu melatihnya dan bekerja keras serta perlu senantiasa ada pengingat di saat ada hal yang membuat seseorang goyah atau bergejolak dalam dirinya. Seperti ketika seseorang datang kepada Nabi dan meminta wasiat kepada beliau, maka Nabi mengatakan kepadanya, “Janganlah kamu marah.” Orang tersebut mengulang-ulang permintaan wasiatnya, dan Nabi tetap menjawab demikian. (HR. Bukhari). Nabi juga pernah bersabda,ليس الشديد بالصرعة، وإنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب“Orang yang kuat bukanlah yang bisa mengalahkan (lawannya), tetapi orang yang bisa menguasai dirinya di saat marah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Maka menahan amarah dan menguasai diri di saat marah termasuk akhlak yang mulia. Dan Nabi telah memberikan penawar marah, yaitu jangan melampiaskan marah tersebut, lalu berlindung kepada Alloh dari syaitan yang terkutuk (HR. Tirmidzi). Jika dia sedang berdiri maka hendaknya duduk dan jika belum hilang juga maka hendaknya berbaring. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi) Dan untuk memperoleh akhlak mulia dengan jalur usaha maka seseorang memerlukan hal-hal berikut: 1. Menelaah Kitabullah dan Sunnah Rosululloh, yang banyak memuat tentang pujian terhadap akhlak mulia, dengan demikian diharapkan seseorang terdorong untuk mengerjakannya. 2. Memilih teman-teman yang baik, shalih dan bisa dipercaya perbuatan dan amanah mereka. Karena Nabi pernah bersabda,إنما مثل الجليس الصالح والجليس السوء كحامل المسك ونافخ الكير فحامل المسك إما أن يحذيك وإما أن تبتاع منه وإما أن تجد منه ريحا طيبة ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد ريحا خبيثة“Sesungguhnya perumpamaan teman baik dan teman buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Maka penjual minyak wangi bisa jadi memberimu, atau kamu membeli darinya atau (paling tidak) kamu mendapatkan bau wanginya. Sedangkan pandai besi bisa jadi akan membakar bajumu atau (paling tidak) kamu mendapatkan bau tak sedapnya.” (HR. Bukhori dan Muslim) Maka hendaknya seseorang memilih teman-teman yang berakhlak mulia dan jauh dari akhlak buruk. 3. Memperhatikan akibat buruk dari akhlak tercela. Orang yang berakhlak buruk dibenci, dijauhi serta dicela. Maka jika seseorang mengetahui akibat buruk dari akhlak yang tercela maka ia akan menjauhinya. (Kitabul Ilmi hal. 269-271) Demikian yang bisa kami susun tentang Akhlak Muslim Sejati, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua terutama yang sedang menuntut ilmu. Wallohu walliyut taufiq. Referensi: Makarimul Akhlak, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Kitab al Ilmi, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin. Min Akhlak ar Rosul al Karim, oleh Syaikh Abdul Muhsin al Abbad. Ushul al Manhaj al Islami, oleh Syaikh Abdurrahman al Ubayyid.
Baca Selanjutnya... |
| Sebuah Coretan Shady Huda El Fikri @ 3:50 PM |
|
|
|
|
|